Asuransi Syariah Mengandung Unsur Sosial

Agustus 18, 2007

JAKARTA, Investor Daily

Indonesia merupakan salah satu pasar paling potensial untuk asuransi berbasis syariah. Pasalnya, 88% penduduknya menganut agama Islam.

    

Wapres Malaysia Takaful Association Ezamshah Ismail mengatakan, respons pasar Indonesia terhadap skema takaful sangat besar. Bahkan, kemungkinan nasabah mengalihkan asuransinya. Pasalnya, Takaful menawarkan prinsi-prinsip syariah yang diimplementasikan dalam prinsip asuransi.

“Jika sosialisasi mengenai Takaful dijalankan dengan baik, saya yakin, pasarnya bisa berkembang pesat,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (7/8).

   

Menurut dia, asuransi syariah memberi nilai tambah bagi pemegang polis. Sebab, konsep ini tidak hanya memiliki fungsi perlindungan dan investasi, namun juga mengandung unsur kepedulian sosial. Seperti halnya asuransi tradisional, takaful membutuhkan media distributor untuk memasarkannya.

“Media yang digunakan tidak berbeda dengan asuransi umum, yakni melalui agen, broker, penjualan langsung, dan bancasurrance. Unit linked dan asuransi proteksi juga merupakan produk unggulan,” tandas Ezamshah.

 Ia mencontohkan pasar syariah di Malaysia menjadi pilihan utama perusahaan asuransi. Hal ini terbukti tingginya pertumbuhan premi dari tahun ke tahun. Tahun 2006, pendapatan secara industri meningkat 46% dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dari 1,3 miliar ringgit menjadi 1,9 miliar ringgit. 

Pendapatan produk Family Takaful meningkat 23% dari 977 juta ringgit menjadi 1,2 miliar ringgit.

“Produk capital protection mengontribusi 175 juta ringgit terhadap total pendapatan Family takaful,” tambah Ezamshah.

Sedangkan pendapatan general takaful naik signifikan sebesar 98% dari 356 juta ringgit menjadi 705 juta ringgit.

 

Sementara itu, Takaful di Malaysia masih mengandalkan penjualan langsung (direct marketing) untuk memasarkan produk-produknya. Hasil penjualan melalui direct marketing mendominasi penjualan. Sedangkan sisanya berasal dari penjualan pihak ketiga, antara lain agen dan broker. 

    

Beranjak dari data ini, menurut Ezamshah, Indonesia seharusnya bisa menjadikan Malaysia sebagai contoh negara yang sukses menjalankan asuransi syariah. Sebab, komposisi penduduk muslim Indonesia tidak jauh berbeda dengan yang terdapat di Malaysia. “Saat ini yang dibutuhkan adalah sosialisasi komprehensif agar asuransi syariah ini bisa lebih berkembang di sini,” jelas dia.

    

Untuk memasarkan produk-produk syariah, tegas dia, penggunaan sistem teknologi informasi (TI) terpadu mutlak dilaksanakan. Sebab, TI dapat mendorong persaingan yang lebih kompetitif dengan industri tradisional. (c106)


Asuransi Mega Incar Sektor Migas

Agustus 18, 2007

JAKARTA, Investor Daily

PT Asuransi Umum Mega mengincar sektor minyak dan gas (migas) untuk mengembangkan produk baru asuransi perlindungan. Saat ini perusahaan menunggu izin dan diharapkan bisa terealisasi dalam waktu dekat. 

“Kami akan mencoba untuk masuk pada sektor migas. Pasalnya, kami melihat potensi pendapatan dari sektor ini sangat besar,” kata Direktur Teknik Asuransi Mega Lukman Siregar kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

       

Menurut Lukman, perusahaan sudah mendekati beberapa perusahaan migas. Anak usaha Para Group ini sebelumnya lebih mengandalkan pendapatan premi dari asuransi kendaraan bermotor.  Kendaraan bermotor mengontribusi 50% terhadap pendapatan premi dan sisanya diperoleh dari unit cargo.

       

Hingga akhir Juni 2007, Asuransi Mega berhasil meraup pendapatan premi sekitar Rp 60 miliar dari target akhir tahun sebesar Rp 200-300 miliar. Pencapaian ini mencerminkan pertumbuhan signifikan dibandingkan tahun lalu. Tahun 2006, perusahaan hanya mampu memperoleh pendapatan premi senilai Rp 68 miliar.

    

Lebih lanjut Lukman menegaskan, perusahaan belum berencana merevisi target sebelumnya. “Kami masih optimistis target pendapatan premi bisa tercapai hingga akhir tahun. Sebab, biasanya pendapatan premi lebih besar diperoleh pada kuartal akhir, terutama pada Desember,” tandas dia. Sedangkan laba bersih perusahaan mencapai Rp 6 miliar, tumbuh 100% dari periode sama tahun lalu.

     

Sementara itu, unit syariah yang belum lama ini diluncurkan mulai menunjukkan kinerja keuangan yang cukup baik. Untuk meningkatkan kinerja keuangan lebih baik, unit syariah perseroan telah   bekerja sama dengan beberapa bank, antara lain PT Bank Syariah Mega Indonesia, PT Bank DKI, dan PT Bank Muamalat Indonesia. (c106)


Asuransi Perlu Perhatikan Biaya Pendidikan Agen

Agustus 18, 2007

JAKARTA, Investor Daily
Industri asuransi jiwa perlu memperhatikan biaya pendidikan bagi tenaga penjual. Alokasi dana 5℅ untuk pendidikan harus mengutamakan kepentingan agen penjual guna meningkatkan kualitas dan pemasaran produk-produk di Tanah Air.


Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Evelina F Pietruschka mengatakan, pihaknya mendorong industri untuk meningkatkan profesionalisme keagenan. “Agen harus bisa mendekatkan diri kepada nasabah secara profesional. Saat ini agen dituntut harus lebih costumer service. Oleh karena itu, AAJI membuat sertifikasi keagenan agar lebih profesional,“ kata dia pada acara million dollar round table (MDRT) di Jakarta, Selasa (14/8).

Evelina menjelaskan, sertifikasi diperlukan agar citra asuransi semakin membaik seiring pertumbuhan agen penjual.  Penggunaan dana pendidikan sekitar 70℅ sebaiknya digunakan untuk agen. Sedangkan sisanya dipakai untuk level direksi, underwriting, keuangan, dan administrasi. Bahkan persentase alokasi dana pendidikan bisa meningkat seiring kebutuhan perusahaan.

Dia menekankan, agar agen menghindari pendekatan ke nasabah dengan cara menekan (product pusher). Kesenjangan yang terjadi antara masyarakat dengan agen harus diatasi dengan pola pemasaran product passion. Terkait penerapan sertifikasi, asosiasi ini menganjurkan empat hal yakni, pendidikan, pelatihan, kode etik, dan pengalaman.

    
Menurut Evelina, pengalaman menjadi anggota MDRT luar biasa dan berpotensi memacu peningkatan kualitas agen.

Sedangkan Kepala Bagian Perasuransian Syariah Bapepam-LK Nurhayati mengatakan, hingga saat ini agen masih merupakan kanal distribusi yang diandalkan perusahaan asuransi, meski ada perkembangan jalur lain, seperti telemarketing dan bancassurance.

Nurhayati menjelaskan, pendapatan premi pada 2006 senilai Rp 27,5 triliun, mayoritas dari hasil agen. Rata-rata per triwulan pertama 2006   mencapai Rp 7,5 triliun. Sedangkan pada triwulan pertama 2007, pendapatan premi telah tercatat Rp 8,50 triliun atau naik 23℅. “Kenaikan ini tidak lepas dari pencapaian prestasi agen penjual. Kami optimistis, pada triwulan berikutnya bisa lebih besar lagi,“ ujar dia.

Masih Kecil

Dia menambahkan, jumlah agen masih sekitar 160 ribu dan ini masih relatif kecil. Sebab, persentase pemegang polis belum seimbang dibandingkan populasi penduduk.  Kecilnya jumlah agen disebabkan kurangnya program sosialisasi.

Menurut Nurhayati, tingkat pengangguran dan profesi agen masih perlu

disosialisasikan sebagai alternatif. Sebab, konsumen semakin sadar terhadap hak memperoleh produk asuransi yang tepat. Oleh sebab itu, pemerintah mendukung program-program pendidikan keagenan.

     
Menanggapi potensi penyalahgunaan dana pendidikan, Evelina menjelaskan, hal ini perlu dikaji lebih jauh. Dia mengaku, pihaknya belum meneliti data potensi penyalahgunaan dana pendidikan. “Kalau soal ini jangan selalu dikonotasikan negatif. Mungkin saja manajemen perusahaan menggunakan dananya seperti pergi ke luar negeri untuk tujuan strategis dan pertukaran ilmu,” tandas dia.

Menurut dia, sejauh ini AAJI mendorong agar industri memperhatikan pentingnya pendidikan. Jika industri semakin besar, lanjut dia, otomatis animo masyarakat bertambah besar, sehingga alokasi pelatihan ikut besar. “Kalau tidak, tentu perusahaan akan kalah bersaing,” tegas dia.  (c101/c106)