JAKARTA, Investor Daily
Industri asuransi jiwa perlu memperhatikan biaya pendidikan bagi tenaga penjual. Alokasi dana 5℅ untuk pendidikan harus mengutamakan kepentingan agen penjual guna meningkatkan kualitas dan pemasaran produk-produk di Tanah Air.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Evelina F Pietruschka mengatakan, pihaknya mendorong industri untuk meningkatkan profesionalisme keagenan. “Agen harus bisa mendekatkan diri kepada nasabah secara profesional. Saat ini agen dituntut harus lebih costumer service. Oleh karena itu, AAJI membuat sertifikasi keagenan agar lebih profesional,“ kata dia pada acara million dollar round table (MDRT) di Jakarta, Selasa (14/8).
Evelina menjelaskan, sertifikasi diperlukan agar citra asuransi semakin membaik seiring pertumbuhan agen penjual. Penggunaan dana pendidikan sekitar 70℅ sebaiknya digunakan untuk agen. Sedangkan sisanya dipakai untuk level direksi, underwriting, keuangan, dan administrasi. Bahkan persentase alokasi dana pendidikan bisa meningkat seiring kebutuhan perusahaan.
Dia menekankan, agar agen menghindari pendekatan ke nasabah dengan cara menekan (product pusher). Kesenjangan yang terjadi antara masyarakat dengan agen harus diatasi dengan pola pemasaran product passion. Terkait penerapan sertifikasi, asosiasi ini menganjurkan empat hal yakni, pendidikan, pelatihan, kode etik, dan pengalaman.
Menurut Evelina, pengalaman menjadi anggota MDRT luar biasa dan berpotensi memacu peningkatan kualitas agen.
Sedangkan Kepala Bagian Perasuransian Syariah Bapepam-LK Nurhayati mengatakan, hingga saat ini agen masih merupakan kanal distribusi yang diandalkan perusahaan asuransi, meski ada perkembangan jalur lain, seperti telemarketing dan bancassurance.
Nurhayati menjelaskan, pendapatan premi pada 2006 senilai Rp 27,5 triliun, mayoritas dari hasil agen. Rata-rata per triwulan pertama 2006 mencapai Rp 7,5 triliun. Sedangkan pada triwulan pertama 2007, pendapatan premi telah tercatat Rp 8,50 triliun atau naik 23℅. “Kenaikan ini tidak lepas dari pencapaian prestasi agen penjual. Kami optimistis, pada triwulan berikutnya bisa lebih besar lagi,“ ujar dia.
Masih Kecil
Dia menambahkan, jumlah agen masih sekitar 160 ribu dan ini masih relatif kecil. Sebab, persentase pemegang polis belum seimbang dibandingkan populasi penduduk. Kecilnya jumlah agen disebabkan kurangnya program sosialisasi.
Menurut Nurhayati, tingkat pengangguran dan profesi agen masih perlu
disosialisasikan sebagai alternatif. Sebab, konsumen semakin sadar terhadap hak memperoleh produk asuransi yang tepat. Oleh sebab itu, pemerintah mendukung program-program pendidikan keagenan.
Menanggapi potensi penyalahgunaan dana pendidikan, Evelina menjelaskan, hal ini perlu dikaji lebih jauh. Dia mengaku, pihaknya belum meneliti data potensi penyalahgunaan dana pendidikan. “Kalau soal ini jangan selalu dikonotasikan negatif. Mungkin saja manajemen perusahaan menggunakan dananya seperti pergi ke luar negeri untuk tujuan strategis dan pertukaran ilmu,” tandas dia.
Menurut dia, sejauh ini AAJI mendorong agar industri memperhatikan pentingnya pendidikan. Jika industri semakin besar, lanjut dia, otomatis animo masyarakat bertambah besar, sehingga alokasi pelatihan ikut besar. “Kalau tidak, tentu perusahaan akan kalah bersaing,” tegas dia. (c101/c106)