JAKARTA, investordailyTerus dan terus berekspansi. Begitulah yang dilakukan pengusaha nasional Sukanto Tanoto, pendiri Grup Radja Garuda Mas (RGM), dalam memekarkan bisnisnya, terutama bidang usaha pulp dan kertas.
Langkah ekspansi tersebut, baik di dalam dan luar negeri, tidak dengan serta merta. Namun Sukanto memperhitungkannya dengan matang, karena adanya peluang yang terbuka lebar. Itu pun dilakukan setelah ia berhasil membangun dan membesarkan industri berbasis kehutanan di Sumatera, yakni pabrik bubur kertas (pulp) dan rayon PT Toba Pulp Lestari Tbk di Porsea, Sumatera Utara dan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Pelalawan, Provinsi Riau.
Terakhir, pria kelahiran Belawan, Sumatera Utara, 25 Desember 1949 yang bernama asli Tan Kang Hoo ini melebarkan sayap bisnisnya ke Amerika Latin. Melalui Sateri International, taipan papan atas Indonesia ini membenamkan investasi US$ 400 juta di Bahia Pulp, sebuah pabrik pulp di Brasil.
Sukanto dengan bendera RGM International juga berencana menanamkan investasi di Cina senilai US$ 6 miliar hingga 2010. Sejak 2002 hingga 2005, RGM telah merealisasikan investasi di Cina hingga mencapai US$ 3,5 miliar, atau setara sekitar Rp 31,5 triliun.
Selain bidang pulp dan kertas, Sukanto merambah pula industri minyak kelapa sawit (Asian Agro Group), properti, konstruksi, pertambangan, dan energi. Ia tercatat sebagai pengusaha yang sukses berinvestasi di lebih 10 negara. Tak heran bila Sukanto dinobatkan Forbes Asia sebagai pengusaha terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan mencapai US$ 2,8 miliar.
Tentang gelar yang diberikan Forbes Asia itu, Sukanto melalui Ratih Hardjono Falaakh, direktur PT APCO Indonesia, perusahaan public relations yang dikontrak Grup RGM, berujar bahwa indikator-indikator yang dijadikan dasar Forbes menetapan dirinya sebagai orang terkaya di Indonesia masih perlu diperdebatkan.
Menurut Ratih, Sukanto juga mempertanyakan metode perhitungan yang dipakai Forbes, sehingga menghasilkan kesimpulan tersebut. Sebab, Sukanto merasa masih banyak pengusaha lain di Indonesia yang juga berhasil membangun usahanya.
Terlepas dari perdebatan itu, Sukanto dinilai oleh sejumlah pihak sebagai kampiun bisnis nasional yang berhasil merambah pasar global. “Pengusaha nasional terbesar dengan reputasi internasional.” Kalimat ini terpampang pada blogger Sukanto Tanoto.
Wilson Nababan, analis korporasi dari PT Cisi Raya Utama, pernah menyebut Sukanto sebagai sosok entrepreneur yang kreatif, dinamis, dan agresif yang ingin menjadi pemain atau pebisnis utama dalam tempo singkat. Jika melihat kiprah Sukanto selama ini, ‘cap’ yang diberikan oleh Wilson tersebut cukup masuk akal.
Lihat saja, betapa agresifnya Sukanto mengembangkan bisnis pulp di Amerika Latin, melalui proyek Bahia Pulp, di tengah memudarnya prospek industri ini di daratan Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada). Proyek ini diproyeksikan mulai berjalan awal 2007.
RGM melalui Sateri International mengakuisisi 81,7% saham Klabin Bacell SA dan 100% saham Norcell SA, perusahaan yang memiliki konsensi hutan di Bahia, Brazil. Kapasitas produksi Bahia Pulp akan ditingkatkan menjadi 365.000 ton pulp per tahun dari sekarang 115.000 ton per tahun.
Presdir Sateri International Arthur Lingm, seperti dikutip PR Newswire, menyatakan, RGM akan terus meningkatkan investasinya di Brasil hingga US$ 1,5 miliar.
President Bahia Pulp Josmar Verillo melalui website grup usaha yang mengutip Valor Economico Newspaper memaparkan, proyek Bahia Pulp memiliki pabrik di Camacari, sebuah distrik di perbatasan Brasil dan Salvador.
Bahia Pulp akan mengembangkan kebun ekaliptus di lahan seluas 150.000 hektare (ha) di 21 distrik sebelah utara Salvador. Tahun 2007, Bahia berharap dapat meningkatkan wilayah tanaman menjadi 90.000 ha.
Raja Pulp dan Sawit
Untuk bidang industri pulp, dengan RAPP di Riau dan Toba Pulp Lestari di Sumut, Sukanto boleh dibilang telah memenuhi ambisinya menjadi ‘raja’ pulp dan kertas di Indonesia, bahkan di Asia. RAPP mulai dibangun pada 1995, namun baru beroperasi tahun 2000 dengan memproduksi 935.269 ton pulp dan 275.341 ton kertas.
RAPP tercatat memiliki kapasitas terpasang pulp sebesar 2 juta ton, dan pemanfaatannya sudah hampir penuh, yakni 92,5% atau 1,85 juta ton per tahun.
Produksi pulp perseroan akan dinaikkan secara bertahap hingga mencapai optimal pada 2009.
Perseroan menargetkan perluasan areal hutan tanaman industri (HTI) menjadi 460,75 ribu ha pada 2009, atau meningkat rata-rata 60 ribu ha per tahun.
Realisasi penanaman HTI hingga saat ini sudah mencapai 268,91 ribu ha, terdiri atas penanaman oleh perusahaan seluas 167 ribu ha, hutan rakyat seluas 23 ribu ha, dan sisanya berasal dari sekitar 20 unit perusahaan mitra.
Sedangkan untuk memasuki pasar global, Sukanto mengkonsolidasikan industri kehutanannya dalam sebuah perusahaan induk bernama The Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL), dengan kantor pusat di Singapura. Sejak tahun 1995, APRIL tercatat di bursa saham New York (New York Stock Exchange—NYSE). Jadi, APRIL adalah kendaraan utama Sukanto untuk mengarungi bisnis pulp di pasar dunia.
Selain di Indonesia, tahun 1997 Sukanto mengakuisisi pabrik pulp dan kertas di Serawak, Malaysia. Sukanto juga membangun dua unit pabrik serupa di Suzhou, Cina, bekerjasama dengan UPM-Kymmene, perusahaan bubur kertas berbasis di Finlandia. Sedangkan bisnis Sukanto di Filipina adalah di bawah bendera National Development Coporation Guthrie.
Sukanto tercatat pula sebagai pemain utama bisnis perkebunan sawit di negeri ini. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), RGM menguasai areal perkebunan sawit seluas 317,9 ribu ha, dan Asian Agro Group seluas 150 ribu ton.
Di tengah maraknya pengembangan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel di negeri ini, Asian Agro Group berencana terjun ke bisnis biodiesel berbahan baku minyak sawit. Perseroan tercatat mengantongi izin produksi biodiesel sebesar 150 ribu ton per tahun.
Jika dirunut ke belakang, ‘kerajaan’ bisnis Sukanto mulai terbangun dari usaha perdagangan onderdil mobil, yang kemudian diubah menjadi kontraktor umum dan suplier. Usaha itu mulai berlangsung tahun 1968. Namun, naluri bisnis justru tertuju kepada industri berbasis sumberdaya alam.
Ia pun mendirikan perusahaan kayu, CV Karya Pelita di Medan, tahun 1972. Setahun kemudian, perusahaan itu diubah menjadi perusahaan kayu lapis (plywood) , dengan bendera PT Radja Garuda Mas (RGM). “Saya adalah pionir,” ujar Sukanto saat itu. Produk kayu lapis RGM bermerek Polyplex diekspor ke sejumlah negara di Eropa dan Timur Tengah.
Sukanto yang tahun 2001 mengikuti Wharton Fellows Programme ini menikahi Tinah Bingei Tanoto, dan dikaruniahi empat orang anak. Pria pemeluk agama Budha ini adalah penyuka musik klasik yang ringan. Sembari menikmati lembutnya irama musik klasik, pikiran Sukanto mungkin terus menerawang jauh ke sudut-sudut dunia. Entah di negara mana lagi, kepak sayap bisnis RGM akan diarahkan. (wiyono)