NBK Akuisisi Al-Watany US$ 522 Juta

Agustus 19, 2007

KUWAIT, Investor Daily

Bank Nasional Kuwait (NBK) mengakuisisi AlWatany Bank asal Mesir senilai US$ 522 juta guna memasuki pasar perbankan terbesar di negara-negara Arab. NBK membeli AlWatany seharga US$ 11,23 per saham pada penutupan perdagangan pada Senin (13/8) di bursa Mesir. Pengamat perbankan HC Brokerage Hatem Alaa mengatakan, aksi korporasi BNK sangat bagus mengingat bank ini sangat sehat. “Bank ini tidak memiliki masalah subtansial dan kinerja keuangan sangat impresif,” kata dia di Kuwait, Selasa (14/8) seperti dikutip Reuters.

Akuisisi ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah NBK. Bank ini berharap terus meningkatkan kepemilikan sahamanya hingga 90% dari saat ini sebesar 51%. Pemegang saham terbesar kedua bank ini yakni Commercial Bank of Kuwait dan Eurobank. Laba bersih AlWatany naik hingga 169 % pada semester I- 2007 atau sebesar 146,7 juta poundsterling. Menurut Kepala Investasi NBK George Nasra, pangsa pasar perbankan di Mesir cukup besar, nanum belum digarap secara optimal. “Mesir adalah negara besar dengan populasi 75 juta orang, tetapi penetrasi pasar perbankan masih rendah,” kata Nasra.

Dalam waktu dekat, proses administrasi akuisisi ini diharapkan tuntas dan telah disetujui bank sentral Mesir pada Juli 2007. Bank sentral negara ini tengah berupaya mereformasi perbankannya guna meningkatkan daya saingnya di tingkat internasional. Akibatnya, jumlah bank tergerus menjadi 41 dari 57 buah sejak program ini diluncurkan pada September 2004.

Beberapa bank negara Arab dan bank internasional lainnya saling mengincar bank-bank Mesir. Salah satunya yakni Intesa Sanpaolo dari Italia denga memiliki 80 % saham di Bank of Alexandria atau senilai US$1,6 miliar sejak 2006. Pemerintah juga berniat menjual Banque du Caire pada Maret atau April 2008. AlWatany kini memiliki 20 kantor cabang dan menguasai 1,3 % pangsa pasar deposito dan 1,2 % pinjaman di Mesir. (rav)


SUKANTO TANOTO, TERKAYA DI INDONESIA, Tiada Henti Berekspansi

Agustus 19, 2007

JAKARTA, investordailyTerus dan terus berekspansi. Begitulah yang dilakukan pengusaha nasional Sukanto Tanoto, pendiri Grup Radja Garuda Mas (RGM), dalam memekarkan bisnisnya, terutama bidang usaha pulp dan kertas.

Langkah ekspansi tersebut, baik di dalam dan luar negeri, tidak dengan serta merta. Namun Sukanto memperhitungkannya dengan matang, karena adanya peluang yang terbuka lebar. Itu pun dilakukan setelah ia berhasil membangun dan membesarkan industri berbasis kehutanan di Sumatera, yakni pabrik bubur kertas (pulp) dan rayon PT Toba Pulp Lestari Tbk di Porsea, Sumatera Utara dan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Pelalawan, Provinsi Riau.

Terakhir, pria kelahiran Belawan, Sumatera Utara, 25 Desember 1949 yang bernama asli Tan Kang Hoo ini melebarkan sayap bisnisnya ke Amerika Latin. Melalui Sateri International, taipan papan atas Indonesia ini membenamkan investasi US$ 400 juta di Bahia Pulp, sebuah pabrik pulp di Brasil.

Sukanto dengan bendera RGM International juga berencana menanamkan investasi di Cina senilai US$ 6 miliar hingga 2010. Sejak 2002 hingga 2005, RGM telah merealisasikan investasi di Cina hingga mencapai US$ 3,5 miliar, atau setara sekitar Rp 31,5 triliun.

Selain bidang pulp dan kertas, Sukanto merambah pula industri minyak kelapa sawit (Asian Agro Group), properti, konstruksi, pertambangan, dan energi. Ia tercatat sebagai pengusaha yang sukses berinvestasi di lebih 10 negara. Tak heran bila Sukanto dinobatkan Forbes Asia sebagai pengusaha terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan mencapai US$ 2,8 miliar. 

Tentang gelar yang diberikan Forbes Asia itu, Sukanto melalui Ratih Hardjono Falaakh, direktur PT APCO Indonesia, perusahaan public relations yang dikontrak Grup RGM, berujar bahwa indikator-indikator yang dijadikan dasar Forbes menetapan dirinya sebagai orang terkaya di Indonesia masih perlu diperdebatkan.

Menurut Ratih, Sukanto juga mempertanyakan metode perhitungan yang dipakai Forbes, sehingga menghasilkan kesimpulan tersebut. Sebab, Sukanto merasa masih banyak pengusaha lain di Indonesia yang juga berhasil membangun usahanya.

Terlepas dari perdebatan itu, Sukanto dinilai oleh sejumlah pihak sebagai kampiun bisnis nasional yang berhasil merambah pasar global. “Pengusaha nasional terbesar dengan reputasi internasional.” Kalimat ini terpampang pada blogger Sukanto Tanoto.

Wilson Nababan, analis korporasi dari PT Cisi Raya Utama, pernah menyebut Sukanto sebagai sosok entrepreneur yang kreatif, dinamis, dan agresif yang ingin menjadi pemain atau pebisnis utama dalam tempo singkat. Jika melihat kiprah Sukanto selama ini, ‘cap’ yang diberikan oleh Wilson tersebut cukup masuk akal.

Lihat saja, betapa agresifnya Sukanto mengembangkan bisnis pulp di Amerika Latin, melalui proyek Bahia Pulp, di tengah memudarnya prospek industri ini di daratan Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada). Proyek ini diproyeksikan mulai berjalan awal 2007.

RGM melalui Sateri International mengakuisisi 81,7% saham Klabin Bacell SA dan 100% saham Norcell SA, perusahaan yang memiliki konsensi hutan di Bahia, Brazil. Kapasitas produksi Bahia Pulp akan ditingkatkan menjadi 365.000 ton pulp per tahun dari sekarang 115.000 ton per tahun.

Presdir Sateri International Arthur Lingm, seperti dikutip PR Newswire, menyatakan, RGM akan terus meningkatkan investasinya di Brasil hingga US$ 1,5 miliar.

President Bahia Pulp Josmar Verillo melalui website grup usaha yang mengutip Valor Economico Newspaper memaparkan, proyek Bahia Pulp memiliki pabrik di Camacari, sebuah distrik di perbatasan Brasil dan Salvador.

Bahia Pulp akan mengembangkan kebun ekaliptus di lahan seluas 150.000 hektare (ha) di 21 distrik sebelah utara Salvador. Tahun 2007, Bahia berharap dapat meningkatkan wilayah tanaman menjadi 90.000 ha.

Raja Pulp dan Sawit

Untuk bidang industri pulp, dengan RAPP di Riau dan Toba Pulp Lestari di Sumut, Sukanto boleh dibilang telah memenuhi ambisinya menjadi ‘raja’ pulp dan kertas di Indonesia, bahkan di Asia. RAPP mulai dibangun pada 1995, namun baru beroperasi tahun 2000 dengan memproduksi 935.269 ton pulp dan 275.341 ton kertas.

RAPP tercatat memiliki kapasitas terpasang pulp sebesar 2 juta ton, dan pemanfaatannya sudah hampir penuh, yakni 92,5% atau 1,85 juta ton per tahun.

Produksi pulp perseroan akan dinaikkan secara bertahap hingga mencapai optimal pada 2009.

Perseroan menargetkan perluasan areal hutan tanaman industri (HTI) menjadi 460,75 ribu ha pada 2009, atau meningkat rata-rata 60 ribu ha per tahun.

Realisasi penanaman HTI hingga saat ini sudah mencapai 268,91 ribu ha, terdiri atas penanaman oleh perusahaan seluas 167 ribu ha, hutan rakyat seluas 23 ribu ha, dan sisanya berasal dari sekitar 20 unit perusahaan mitra.

Sedangkan untuk memasuki pasar global, Sukanto mengkonsolidasikan industri kehutanannya dalam sebuah perusahaan induk bernama The Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL), dengan kantor pusat di Singapura. Sejak tahun 1995, APRIL tercatat di bursa saham New York (New York Stock Exchange—NYSE). Jadi, APRIL adalah kendaraan utama Sukanto untuk mengarungi bisnis pulp di pasar dunia.

Selain di Indonesia, tahun 1997 Sukanto mengakuisisi pabrik pulp dan kertas di Serawak, Malaysia. Sukanto juga membangun dua unit pabrik serupa di Suzhou, Cina, bekerjasama dengan UPM-Kymmene, perusahaan bubur kertas berbasis di Finlandia. Sedangkan bisnis Sukanto di Filipina adalah di bawah bendera National Development Coporation Guthrie.

Sukanto tercatat pula sebagai pemain utama bisnis perkebunan sawit di negeri ini. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), RGM menguasai areal perkebunan sawit seluas 317,9 ribu ha, dan Asian Agro Group seluas 150 ribu ton.

Di tengah maraknya pengembangan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel di negeri ini, Asian Agro Group berencana terjun ke bisnis biodiesel berbahan baku minyak sawit. Perseroan tercatat mengantongi izin produksi biodiesel sebesar 150 ribu ton per tahun.

Jika dirunut ke belakang, ‘kerajaan’ bisnis Sukanto mulai terbangun dari usaha perdagangan onderdil mobil, yang kemudian diubah menjadi kontraktor umum dan suplier. Usaha itu mulai berlangsung tahun 1968. Namun, naluri bisnis justru tertuju kepada industri berbasis sumberdaya alam.

Ia pun mendirikan perusahaan kayu, CV Karya Pelita di Medan, tahun 1972. Setahun kemudian, perusahaan itu diubah menjadi perusahaan kayu lapis (plywood) , dengan bendera PT Radja Garuda Mas (RGM). “Saya adalah pionir,” ujar Sukanto saat itu. Produk kayu lapis RGM bermerek Polyplex diekspor ke sejumlah negara di Eropa dan Timur Tengah.


Sukanto yang tahun 2001 mengikuti Wharton Fellows Programme ini menikahi Tinah Bingei Tanoto, dan dikaruniahi empat orang anak. Pria pemeluk agama Budha ini adalah penyuka musik klasik yang ringan. Sembari menikmati lembutnya irama musik klasik, pikiran Sukanto mungkin terus menerawang jauh ke sudut-sudut dunia. Entah di negara mana lagi, kepak sayap bisnis RGM akan diarahkan.
(wiyono)


Gudang Garam dan Djarum Terkaya di Indonesia, Kekayaan Bill Gates US$ 56 Miliar

Agustus 19, 2007

JAKARTA, Investor Daily

Bill Gates kembali memuncaki daftar orang terkaya dunia 2007 versi majalah Forbes 2007. Pendiri Microsoft itu bertahan di posisi puncak dalam 13 tahun terakhir. Gates memiliki kekayaan sebesar US$ 56 miliar (sekitar Rp 536,9 triliun). Angka itu jauh di atas target penerimaan pajak Indonesia dalam APBN 2007 (tanpa PPh migas) sebesar Rp 452,5 miliar. Harta Bill Gates juga masih di atas cadangan devisa Indonesia yang kini sebesar US$ 45,69 miliar.


Dalam setahun terakhir, kekayaan Gates meningkat sekitar US$ 2 miliar. Dari 946 miliarder dunia dengan total kekayaan US$ 3,5 triliun, 178 orang di antaranya merupakan pendatang baru. Jumlah tersebut meningkat 35% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 793 miliarder. “Ini merupakan tahunnya orang-orang terkaya,” kata Steve Forbes, pendiri Forbes.

Mereka berupaya untuk menciptakan kekayaan dengan memanfaatkan sejumlah celah bisnis di pasar terbuka. Hal itu tercermin pada menguatnya pasar saham yang diimbangi dengan kenaikan harga komoditas di pasar internasional serta real estat. “Dalam lima tahun terakhir, meskipun terjadi serangkaian konflik di beberapa negara, secara riil, ekonomi dunia mampu tumbuh lebih dari 25%,” jelas Steve seperti dikutip BBC.

Urutan kedua orang terkaya adalah Warren Buffet yang mengumpulkan kekayaan sebesar US$ 52 miliar (Rp 473,2 triliun), atau melonjak US$ 10 miliar dibanding 2006 yang mencapai US$ 42 miliar. Konglomerat telekomunikasi asal Mexico Carlos Slim Helu menyusul di urutan ketiga dengan kekayaan yang meningkat dari US$ 19 miliar menjadi US$ 49 miliar (Rp 445,9 triliun atau hampir setara target penerimaan pajak Indonesia).

Sejumlah pengusaha dari Cina dan emerging market juga masuk dalam daftar orang-orang terkaya tersebut. Orang terkaya dari India mampu melampaui kekayaan para miliarder Jepang. Pengusaha India yang berbisnis di industri baja, Lakshmi Mittal, mampu menempati posisi lima besar dengan kekayaan mencapai US$ 32 miliar. Dari daftar orang-orang terkaya yang mencakup 53 negara itu, miliarder asal Rumania dan Serbia, baru pertama kali masuk tahun ini. 

Rusia mencatat 19 miliarder baru, dengan Roman Abramovich, pemilik klub sepak bola Inggris, Chelsea, meraup kekayaan sebesar US$ 18,7 miliar. Penulis buku Harry Potter, JK Rowling dan bos Formula 1 Bernie Ecclestone juga termasuk di antara 29 orang terkaya di Inggris.

Orang Terkaya dari Indonesia

Dari Indonesia, majalah terbitan Amerika Serikat itu menempatkan Rahman Halim (pemilik PT Gudang Garam Tbk) dan Budi Hartono (pemilik PT Djarum). Rahman Halim dan keluarga bertengger di posisi 538 dengan kekayaan US$ 1,9 miliar (Rp 17,29 triliun). Budi Hartono menempati posisi 664 dengan kekayaan sebesar US$ 1,5 miliar (Rp 13,65 triliun).

Selain dikenal sebagai produsen rokok, Gudang Garam memiliki anak usaha PT Matahari Kahuripan Indonesia yang didirikan pada 1993. Perusahaan itu membawahi 14 anak perusahaan, beberapa di antaranya bergerak dalam bisnis perkebunan kelapa sawit.

Gudang Garam juga memiliki beberapa perusahaan lain, baik langsung menjadi anak usaha grup maupun yang dimiliki oleh Rachman Halim dan adik-adiknya secara pribadi. Beberapa perusahaan itu bergerak di sektor jasa keuangan, perbankan, properti, ritel, kertas kemasan, plastik, perusahaan investasi, hingga industri kimia.

Saat ini, Gudang Garam memiliki saham di PT Surya Raya Indah, pemilik Hotel Surya dan Hotel Merdeka. Pada 1998, Gudang Garam juga mendirikan PT Surya Pamenang yang bergerak di industri kertas kemasan. Secara perorangan, Rachman Halim juga masuk ke bisnis keuangan, setidaknya ia memiliki 30% saham di Bank Halim. 

Sama halnya Gudang Garam, Grup Djarum juga ekspansi keluar industri rokok.

Mereka berinvestasi ke sektor perbankan dan properti. Bergabung dalam Konsorsium Farallon, Grup Djarum melalui Alaerka Investment memenangi tender penjualan 51% kepemilikan saham pemerintah di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Maret 2002.

Di sektor properti, Djarum membangun pusat grosir Wholesale Trade Centre (WTC) Mangga Dua Jakarta melalui anak perusahaan PT Cipta Karya Bumi Indah (CKBI). 

Kelompok usaha ini lantas berekspansi di sektor perhotelan. Melalui CKBI, Djarum menancapkan usahanya di kawasan segitiga emas dengan memenangi tender pengelolaan Hotel Indonesia (HI) dan Hotel Inna Wisata selama 30 tahun. Pola yang dipakai adalah build, operation & transfer (BOT). Untuk proyek ini Djarum menyediakan dana sekitar US$ 154,76 juta atau Rp 1,3 triliun rupiah untuk peremajaan kedua hotel yang akan disulap menjadi satu hotel plus mal bernama Grand Indonesia. (art)

The ‘Forbes’ Top Ten

1. Bill Gates, 51

Kekayaan US$ 56 miliar (AS, Microsoft)

2. Warren Buffett, 76

Kekayaan US$ 52 miliar (AS, investor)

3. Carlos Slim Helu, 67

Kekayaan US$ 49 miliar (Mexico, Telmex)

4. Ingvar Kamprad, 80

Kekayaan US$ 33 miliar (Swedia, Ikea)

5. Lakshmi Mittal, 56

Kekayaan US$ 32 miliar (India, baja)

6. Sheldon Adelson, 73

Kekayaan US$ 26,5 miliar (AS, hotel dan kasino)

7. Bernard Arnault, 58

Kekayaan US$ 26 miliar (Prancis, Louis Vuitton dan Christian Dior)

8. Amancio Ortega, 71

Kekayaan US$ 24 miliar (Spanyol, Zara)

9. Li Ka-shing, 78

Kekayaan US$ 23 miliar (Hong Kong, seluler, retailer, pembangkit listrik)

10. David Thomson, 49

Kekayaan US$ 22 miliar (Kanada, The Times)


Berkah IPO Menjadikan Yang Huyian Terkaya di Tiongkok

Agustus 19, 2007

JAKARTA, Investor Daily

Berdagang saham bisa membuat orang kaya mendadak, atau miskin tiba-tiba karena harga sahamnya hancur dalam sekejap. Volatilitas harga saham memacu adrenalin, membuat investor makin keranjingan, dan berharap dewi fortuna selalu menghampirinya.


 

Salah satu sosok yang dihampiri dewi keberuntungan belum lama ini adalah Yang Huyian, anak kedua pendiri Country Garden Holding Co (CGH), perusahaan properti yang bermarkas di Provinsi Guangdong. Kekayaan wanita berusia 25 tahun ini tiba-tiba melonjak 36% menjadi US$ 9 miliar, dua kali lipat dibanding kekayaan Nina Wang, yang menduduki peringkat 35 terkaya dunia versi Majalah Forbes.

Semuanya berawal saat Yang duduk sebagai direktur eksekutif perusahaan CGH dan memutuskan untuk mencatatkan 2,4 miliar saham perusahaan di pasar saham Hong Kong pada 20 April 2007. Bak mendapat durian runtuh, penjualan saham CGH mengalami oversubscribed hingga 255 kali. Ini adalah sukses IPO terbesar kedua Tiongkok setelah IPO Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) senilai HK$ 410 miliar pada Oktober tahun lalu.

Dalam debut pertamanya di pasar saham Hong Kong itu, CGH mampu meraup keuntungan US$ 1,66 miliar. Alhasil, perusahaan properti tersebut kini menjadi perusahaan pengembang terbesar di Tiongkok, yang memiliki nilai pasar US$ 15 miliar.

Forbes mengategorikan Yang sebagai taipan termuda kedua di dunia setelah Pangeran Albert von Thurn und Taxis dari Jerman. Dia juga dipastikan menjadi wanita kaya paling muda di dunia versi majalah itu. Kekayaan Yang juga melampaui jumlah uang yang dimiliki wanita terkaya Tiongkok yang dikenal sebagai “Ratu Kertas” Zhang Yin ( dalam bahasa Mandarin: Cheung Yan Zhang Yan) . Zhang adalah direktur utama perusahaan pengepakan kertas Nine Dragons Paper Holdings Ltd.

Menurut laporan majalah Hurun pada Oktober 2006, Zhang dikategorikan sebagai orang terkaya di Tiongkok yang memiliki kekayaan personal mencapai 27 miliar yuan (US$ 3,4 miliar). Zhang juga menguasai 72% aset perusahaan kertas tersebut yang nilainya lebih dari HK$ 48 miliar.

Anak Usahawan

Yang adalah anak kedua dari seorang usahawan properti bernama Yang Guoqiang. Sebelum mendirikan CGH pada 2007, Guoqiang dikenal sebagi pebisnis yang ulet, mempunyai lahan pertanian, peternakan sapi, dan pabrik semen. Saat ini, Guoqiang dikenal sebagai pengusaha sukses yang mengelola bisnis properti dan sejumlah hotel. Nilai propertinya juga berlipat ganda setelah provinsi Guandong berkembang menjadi provinsi yang diminati banyak investor.

Yang menghabiskan studinya di bidang marketing dan logistik di Ohio State University, Amerika Serikat. Dia kemudian bergabung dengan bisnis properti keluarga setelah lulus sekolah pada 2005. Pada tahun tersebut, ayahnya memberikan sekitar 60% aset perusahaan untuk dikelola.

Ayahnya, Yang Guoqiang, percaya Yang mampu mengelola perusahaan dengan baik dengan ilmu yang diperolehnya dari negeri Paman Sam itu. Sang ayah, secara bertahap namun pasti, bertekad mewariskan usahanya itu kepada anak perempuannya tersebut.

Guoqiang mengikuti jejak konglomerat Hong Kong, Li Ka Shing yang mendidik anaknya untuk mengembangkan bisnis dari bawah. Guoqiang menyadari persaingan bisnis di era globalisasi semakin ketat. Sebelum diserahi bisnis keluarga, Guoqiang mempersiapkan anaknya dengan disiplin tinggi. Anaknya juga sering diajak dalam berbagai pertemuan bisnis di luar negeri. Ia juga menyekolahkan anaknya ke Amerika Serikat ketika masuk sekolah menengah.

Yang tidak mau jika dia dianggap mendompleng kesuksesan ayahnya. Keinginannya bergabung di perusahaan tersebut murni karena dia ingin mengembangkan kemampuan dan ilmu yang diperolehnya saat sekolah. Dia juga diberi kebebasan penuh untuk mengelola aset-aset perusahaan tanpa harus menunggu komando dari orang tuanya.

Menurut prospektus perusahaan, Yang saat ini menjabat sebagai direktur eksekutif CGH. Dia aktif mengawasi kegiatan-kegiatan procurement, manajemen enterprise resources, dan strategi-strategi pengembangan.

Yang kini dikabarkan telah menikah dengan seorang pejabat pemerintah di Provinsi Guangdong. Menurut Southern Metropolis Weekly, upacara pernikahan dilakukan di pengujung 2006, di Provinsi Guangdong, RRT, tempat keluarganya mengembangkan bisnisnya. Majalah itu juga menampilkan foto pernikahan Huyian.

Berbuah Sukses

Kerja keras yang dibangun keluarga Yang kini berbuah manis. Padahal, menurut laporan sejumlah media Tiongkok, termasuk Hong Kong Economic Times, keluarga itu dulunya adalah keluarga miskin. Guoqiang berasal dari desa Shunde, kawasan di luar kota Guangdong.

Guoqiang (57) memulai bisnisnya dari bawah. Dia pernah menjadi buruh pembuat batu bata, buruh bangunan, penggembala ternak, dan petani. Pada umur 17 tahun, Guoqiang baru sempat merasakan enaknya mengenakan sepatu. Menginjak usia 20 tahun, Guoqiang menjadi mandor di suatu proyek dan kemudian menjadi ahli di bidang konstruksi.

Berkat perjuangan yang tiada henti, Guoqiang berhasil mendirikan perusahaan real estat pada era 1990-an dan mengembangkan kerja sama miliaran dolar. Tidak hanya proyek perumahan, bisnis keluarga ini juga melebar ke sektor perhotelan dan pengelolaan apartemen. Tidak mudah memang bagi Guoqiang, tetapi ketelatenan dan ketekunan itu telah menuntunnya mereguk kenikmatan yang diimpikan semua orang, menjadi kaya. (dian agustina)


Kisah Wanita Terkaya di Asia bak Telenovela

Agustus 19, 2007

JAKARTA, Investor Daily

Kisah hidup Nina Wang bak telenovela Mandarin. Perjalanan hidup wanita terkaya di Asia itu diwarnai perselingkuhan, perebutan harta kekayaan, penculikan, dan pembunuhan. Hingga akhir hidupnya, wanita yang dijuluki Little Sweetie itu masih menjadi perbincangan khalayak karena meninggalkan warisan senilai US$ 4,2 miliar. Surat surat wasiatnya untuk seorang paranormal sungguh mengejutkan.


Terlahir dengan nama Kung Yu Sum di Shanghai, Nina Wang meninggal pada 3 April 2007, setelah lama berjuang melawan kanker. Nasib harta warisan yang melampaui kekayaan Ratu Inggris pun tak jelas.

Berdasarkan hukum Hong Kong, menurut pengacara Wong Tak-sing, saudara dan saudari Nina bisa mengajukan diri untuk mewarisi kekayaannya bila Nina tidak meninggalkan surat wasiat. Para keponakan Nina juga bisa berbagi kekayaannya seperti halnya jika orang tua mereka meninggal.

Kisah Nina memperoleh kekayaan hingga hingga warisannya menjadi rebutan mirip adegan drama. Setelah sang suaminya, Teddy Wang, seorang taipan properti, dinyatakan tewas satu dasa warsa silam, Nina berhasil memenangi kasus perebutan warisan harta almarhum suminya melawan ayah mertuanya.

Melodarama Asia ini dimulai pada 12 April 1983 saat Mercedes Teddy dibajak dan tubuhnya dirantai di sebuah ranjang. Dia baru dilepas dengan cara dimasukkan dalam sebuah peti yang ditinggalkan di pinggir jalan setelah Nina membayar tebusan senilai US$ 11 juta.

Pada 10 April 1990, Teddy diculik lagi. Sejak saat itu, Teddy tidak pernah kelihatan lagi meski keluarganya telah membayar uang tebusan US$ 33 juta. Secara hukum, pengadilan Hong Kong pada 1999 menyatakan Teddy meninggal, sembilan tahun setelah drama penculikan tersebut.

Kung Yu Sum alias Nina merupakan teman masa kecil Teddy, putera Wang Din-shin, yang memiliki bisnis cat dan farmasi. Pada 1948, ketika Nina berumur 11 tahun dan Teddy 15 tahun, persahabatan mereka bersemi kembali.

Keluarga Wang pindah kemudian pindah ke Hong Kong. Mereka terus menjalankan bisnis hingga membentuk Chinachem Group, satu dari beberapa perusahaan terbesar dan berpengaruh di Hong Kong.

Pada 1955, Nina ikut merantau ke Hong Kong dan menikah dengan Teddy. Nina bergabung dengan Teddy yang menjalankan bisnis farmasi dan cat sebelum terjun ke dunia properti. Pada 1980-an, pasangan ini menjadi bagian dari bisnis properti Hong Kong yang tengah booming.

’Perang’ Melawan Mertua

Kematian Teddy memunculkan babak baru, yakni perebutan harta antara Nina dan ayah Teddy. Masalah warisan membawanya ke perang hukum yang sensasional dengan sang mertua, Wang Din-shin. Keduanya mengklaim berhak atas peninggalan Teddy Wang.

Nina berpegang pada surat wasiat tulisan tangan Teddy. Menurut Nina, surat wasiat itu dibuat dan ditandatangani Teddy pada Maret 1990, sebulan sebelum Teddy diculik. Awalnya, Wang Din-shin menang dalam sidang di pengadilan namun Nina menang setelah mengajukan banding.

Setelah menguasai harta warisan sang suami, Nina berhasil mengembangkan perusahaan Chinachem Group, menjadi pengembang properti raksasa. Menara kantor dan kompleks apartemen yang dibangunnya menyebar di seluruh penjuru Hong Kong.

Nina dikenal publik di Hong Kong karena dandanan khasnya. Nina selalu menguncir rambutnya dan gemar mengenakan baju tradisional Tiongkok. Media-media lokal menjulukinya sebagai Little Sweetie, tokoh gadis kartun Jepang.

Meskipun mengidap penyakit serius, wanita kelahiran 29 September 1937 itu tak pernah secara resmi mengakui bahwa dirinya tengah sakit. Koran-koran Hong Kong melaporkan, Nina menderita kanker indung telur yang telah menyebar ke hati dan organ-organ lainnya.

Dia masuk rumah sakit dan menjalani kemoterapi. Akhirnya, malaikat maut pun menjemput wanita yang dinobatkan oleh majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor 35 di dunia.

Wasiat Kontroversial

Selama hidupnya, Nina tidak memiliki anak. Setelah meninggal, Nina mewariskan kisah tragis karena dia meninggalkan surat wasiat. Dalam surat wasiat itu, dia memberikan warisannya kepada seorang penasihat feng shui pribadinya bernama Chan Chun Chuen.

Keputusan Nina yang tertuang dalam surat wasiat itu menjadi berita kontroversial. Keputusan tentang pewaris kekayaan Nina kembali menghidupkan drama di pengadilan.

Sehari setelah upacara pemakaman Nina, Rabu (18/4), dua surat wasiat yang diduga ditulis Nina pada 2002 dan 2006, dipublikasikan secara terpisah di Next Magazine dan Apple Daily. Dokumen 2002 menyatakan, kekayaan Nina akan diwariskan kepada lembaga amalnya. Namun versi 2006 menunjuk penasihat feng shui pribadinya, Chan Chun Chuen, sebagai ahli waris.

Mengutip sumber-sumber yang dekat dengan keluarga Wang, Apple Daily melaporkan, para saudara yang terdiri atas dua adik wanita, satu adik pria, para ipar, dan para pembantu seniornya tidak familiar dengan Chan. Mereka kecewa dengan surat warisan baru tersebut. Mereka berencana membawa masalah ini ke pengadilan.

Sumber-sumber itu mengatakan, keluarga Wang memiliki ‘bukti kuat’ yang bisa mendiskreditkan warisan kepada Chan dan mereka yakin bisa memenangi kasus tersebut.

Jika benar, dokumen 2006 kemungkinan ditulis dua tahun setelah Wang didiagnosis menderita kanker atau setelah dia menang dalam sidang pengadilan melawan ayah mertuanya. Cerita ini memang belum berakhir. Masih panjang kisah ini jika keluarga Nina menuntut hak mereka atas kekayaan Nina. (cundoko aprilianto)


LAKSHMI MITTAL, TERKAYA DI INGGRIS, Melalui Baja Mengubah Dunia

Agustus 19, 2007

JAKARTA, Investor Daily

Raja baja dunia Lakshmi Mittal masuk dalam kategori 100 orang paling berpengaruh di dunia pada 2007 versi majalah Time, Amerika Serikat.

Sosok Mittal juga dianggap sebagai “reinkarnasi” Andrew Carnegie, pelopor industri baja dari India.


Pemberian gelar sebagai orang yang berpengaruh ini terbilang baru bagi Mittal, karena dia biasa dinobatkan sebagai orang terkaya dalam berbagai versi. Majalah Forbes menempatkan Mittal sebagai orang terkaya nomor lima  dan kini kekayaannya mencapai 19,25 miliar pounsterling atau sekitar US$ 38,5 miliar.

Mittal dinobatkan menjadi salah satu tokoh yang berpengaruh karena  sumbangsihnya di bisnis baja membuat perubahan besar terhadap dunia. Selain itu, sosok Mittal juga dianggap menjadi contoh yang patut ditiru oleh banyak kalangan, ‘menjadi besar dari bawah’.

“Mittal sukses menerjang hambatan untuk mencapai tujuannya, yakni mewujudkan mimpinya menjadi raja baja dunia. Visinya yang besar memunculkan pemikiran-pemikiran yang mengejutkan,” demikian tulis Times . Selain itu, Mittal juga dikenal sebagai orang yang sangat dermawan dan murah hati.

Dalam laporan yang dirilis belum lama ini,  Time  juga memasukkan Ketua Kongres India Sonia Gandhi, pemimpin Al Qaida Osama bin Laden, dan Paus Benediktus XVI sebagai orang-orang yang memiliki pengaruh besar bagi dunia. Daftar itu dibuat untuk mengetahui siapa saja wanita dan pria yang kekuatan, pengaruh, talenta, atau moralnya mampu mengubah dunia.

Berbagai Gelar

Berbagai gelar dan penobatan diterima oleh sosok yang tetap bersahaja itu meski bergelimangan uang. Selain masuk daftar the Rich List 2007, majalah Forbes pada Maret 2007, harian ekonomi Inggris The Financial Times menyebut Mittal sebagai Person of the Year 2006.

Mittal pada akhir April lalu juga kembali dinobatkan sebagai orang terkaya di Inggris. Bagi milyuner kelahiran India yang sudah menjadi warga negara Inggris itu, penobatan ini bukan hal baru lagi. The Sunday Times dalam laporan Rich List 2007 yang dirilis Minggu (6/5) mengungkapkan, total kekayaan gabungan yang dimiliki Mittal dan 999 orang kaya lainnya berjumlah 360 miliar pounsterling, atau melonjak 301 miliar poundsterling dari 2006.

Sepanjang tiga tahun berturut-turut, Mittal telah menjadi orang terkaya di Inggris atas peranannya sebagai Presiden Dewan Direktur dan CEO ArcelorMittal, produsen baja kelas rendah dan menengah terbesar di dunia yang memiliki aset di Rumania, Bosnia-Herzegovina, Afrika Selatan, Polandia, Republik Ceko, Indonesia, dan Kazakhstan.

Bernama lengkap Lakshmi Nivas Mittal, Raja Baja keturunan India ini lahir pada 15 Juni 1950 di desa Sadulpur, distrik Churu, negara bagian Rajasthan, India.Mittal berubah menjadi sosok yang luar biasa setelah menjadi bos besar Arcelor Mittal. Berbeda dengan kondisinya saat pertama kali dilahirkan di India, kini, dia dan keluarganya bisa bermanja-manja dan menikmati enaknya bermandikan uang triliunan dolar.

Rumahnya di Kensington Palace Gardens berdiri megah layaknya istana raja. Rumah yang terletak di wilayah elite kota London itu dibeli Mittal dari bos balap formula satu Bernie Ecclestone senilai 57,1 juta poundsterling (US$ 105,7 juta) pada 2004, harga termahal untuk pembelian sebuah rumah.

Pualam yang dibangun di istana Mittal itu sama dengan pualam yang digunakan di Taj Mahal, India. Di Kensington, dia juga bertetangga dengan Paul Reuter, bos pendiri kantor berita Reuters.

Kendati bukan orang Inggris asli, kecintaannya terhadap negara itu ditunjukkan dengan langkah nyatanya untuk mendonasikan dana dua juta poundsterling untuk mendukung kampanye Partai Buruh, partai milik Perdana Menteri Tony Blair, pada 13 Juli 2005 dan kembali melakukan hal itu pada 16 Januari 2007 dengan nilai tiga juta poundsterling.

Gaji 33 Kali

Gaji Mittal dilaporkan 33 kali lebih besar jika dibandingkan gaji para CEO-CEO India pada umumnya. Sebagai CEO ArcelorMittal, ia mendapat paket upah US$ 3,6 juta per tahun. Jumlah itu jauh melampaui kompensasi yang didapat para CEO India tiap tahunnya.

Berdasarkan laporan tahunan Arcelor Mittal yang dirilis untuk para pemegang saham pekan lalu, gaji pokok yang diterima Raja Baja itu sebesar US$ 2,005 juta plus tunjangan performansi sebesar US$ 1,677 juta pada 2006.

Selain itu, Mittal juga mendapat jatah saham gratis sebanyak 100.000 saham senilai US$ 1,8 juta pada 2006. Total stock options yang dikuasai Mittal sebanyak 440.000 saham dengan nilai lebih dari US$ 8 juta.

Di luar total stock options yang dimilikinya, jumlah kompensasi keseluruhan yang diterima Mittal tiap tahun tidak dapat dijadikan perbandingkan dengan paket upah yang diperoleh CEO-CEO India.

Menurut perusahaan konsultasi sumber daya manusia Mercer HR Consulting, gaji pokok Mittal sebesar US$ 2 juta itu 22 kali lebih besar dibandingkan gaji pokok rata-rata yang diterima CEO India.

Bahkan, berdasarkan survai yang diadakan Mercer HR, CEO-CEO asal India digaji paling rendah dibandingkan para mitra CEO dari Asia yang memiliki gaji pokok US$ 89.759 dan gaji tahunan US$ 111.510.

Sedangkan anak Mittal, Aditya Mittal dan CFO Mittal Steel, menerima gaji pokok US$ 942.000 pada 2006, atau 10 kali lebih besar dibandingkan gaji pokok CEO India.

Aditya juga mendapat tunjangan performansi sebesar US$ 1,6 juta tahun lalu sehingga total paket upah yang diterimanya lebih dari US$ 2,5 juta, atau 22 kali lebih besar dibandingkan paket upah tahunan CEO di India. (dian agustina)


Asuransi Syariah Mengandung Unsur Sosial

Agustus 18, 2007

JAKARTA, Investor Daily

Indonesia merupakan salah satu pasar paling potensial untuk asuransi berbasis syariah. Pasalnya, 88% penduduknya menganut agama Islam.

    

Wapres Malaysia Takaful Association Ezamshah Ismail mengatakan, respons pasar Indonesia terhadap skema takaful sangat besar. Bahkan, kemungkinan nasabah mengalihkan asuransinya. Pasalnya, Takaful menawarkan prinsi-prinsip syariah yang diimplementasikan dalam prinsip asuransi.

“Jika sosialisasi mengenai Takaful dijalankan dengan baik, saya yakin, pasarnya bisa berkembang pesat,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (7/8).

   

Menurut dia, asuransi syariah memberi nilai tambah bagi pemegang polis. Sebab, konsep ini tidak hanya memiliki fungsi perlindungan dan investasi, namun juga mengandung unsur kepedulian sosial. Seperti halnya asuransi tradisional, takaful membutuhkan media distributor untuk memasarkannya.

“Media yang digunakan tidak berbeda dengan asuransi umum, yakni melalui agen, broker, penjualan langsung, dan bancasurrance. Unit linked dan asuransi proteksi juga merupakan produk unggulan,” tandas Ezamshah.

 Ia mencontohkan pasar syariah di Malaysia menjadi pilihan utama perusahaan asuransi. Hal ini terbukti tingginya pertumbuhan premi dari tahun ke tahun. Tahun 2006, pendapatan secara industri meningkat 46% dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dari 1,3 miliar ringgit menjadi 1,9 miliar ringgit. 

Pendapatan produk Family Takaful meningkat 23% dari 977 juta ringgit menjadi 1,2 miliar ringgit.

“Produk capital protection mengontribusi 175 juta ringgit terhadap total pendapatan Family takaful,” tambah Ezamshah.

Sedangkan pendapatan general takaful naik signifikan sebesar 98% dari 356 juta ringgit menjadi 705 juta ringgit.

 

Sementara itu, Takaful di Malaysia masih mengandalkan penjualan langsung (direct marketing) untuk memasarkan produk-produknya. Hasil penjualan melalui direct marketing mendominasi penjualan. Sedangkan sisanya berasal dari penjualan pihak ketiga, antara lain agen dan broker. 

    

Beranjak dari data ini, menurut Ezamshah, Indonesia seharusnya bisa menjadikan Malaysia sebagai contoh negara yang sukses menjalankan asuransi syariah. Sebab, komposisi penduduk muslim Indonesia tidak jauh berbeda dengan yang terdapat di Malaysia. “Saat ini yang dibutuhkan adalah sosialisasi komprehensif agar asuransi syariah ini bisa lebih berkembang di sini,” jelas dia.

    

Untuk memasarkan produk-produk syariah, tegas dia, penggunaan sistem teknologi informasi (TI) terpadu mutlak dilaksanakan. Sebab, TI dapat mendorong persaingan yang lebih kompetitif dengan industri tradisional. (c106)


Asuransi Mega Incar Sektor Migas

Agustus 18, 2007

JAKARTA, Investor Daily

PT Asuransi Umum Mega mengincar sektor minyak dan gas (migas) untuk mengembangkan produk baru asuransi perlindungan. Saat ini perusahaan menunggu izin dan diharapkan bisa terealisasi dalam waktu dekat. 

“Kami akan mencoba untuk masuk pada sektor migas. Pasalnya, kami melihat potensi pendapatan dari sektor ini sangat besar,” kata Direktur Teknik Asuransi Mega Lukman Siregar kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

       

Menurut Lukman, perusahaan sudah mendekati beberapa perusahaan migas. Anak usaha Para Group ini sebelumnya lebih mengandalkan pendapatan premi dari asuransi kendaraan bermotor.  Kendaraan bermotor mengontribusi 50% terhadap pendapatan premi dan sisanya diperoleh dari unit cargo.

       

Hingga akhir Juni 2007, Asuransi Mega berhasil meraup pendapatan premi sekitar Rp 60 miliar dari target akhir tahun sebesar Rp 200-300 miliar. Pencapaian ini mencerminkan pertumbuhan signifikan dibandingkan tahun lalu. Tahun 2006, perusahaan hanya mampu memperoleh pendapatan premi senilai Rp 68 miliar.

    

Lebih lanjut Lukman menegaskan, perusahaan belum berencana merevisi target sebelumnya. “Kami masih optimistis target pendapatan premi bisa tercapai hingga akhir tahun. Sebab, biasanya pendapatan premi lebih besar diperoleh pada kuartal akhir, terutama pada Desember,” tandas dia. Sedangkan laba bersih perusahaan mencapai Rp 6 miliar, tumbuh 100% dari periode sama tahun lalu.

     

Sementara itu, unit syariah yang belum lama ini diluncurkan mulai menunjukkan kinerja keuangan yang cukup baik. Untuk meningkatkan kinerja keuangan lebih baik, unit syariah perseroan telah   bekerja sama dengan beberapa bank, antara lain PT Bank Syariah Mega Indonesia, PT Bank DKI, dan PT Bank Muamalat Indonesia. (c106)


Asuransi Perlu Perhatikan Biaya Pendidikan Agen

Agustus 18, 2007

JAKARTA, Investor Daily
Industri asuransi jiwa perlu memperhatikan biaya pendidikan bagi tenaga penjual. Alokasi dana 5℅ untuk pendidikan harus mengutamakan kepentingan agen penjual guna meningkatkan kualitas dan pemasaran produk-produk di Tanah Air.


Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Evelina F Pietruschka mengatakan, pihaknya mendorong industri untuk meningkatkan profesionalisme keagenan. “Agen harus bisa mendekatkan diri kepada nasabah secara profesional. Saat ini agen dituntut harus lebih costumer service. Oleh karena itu, AAJI membuat sertifikasi keagenan agar lebih profesional,“ kata dia pada acara million dollar round table (MDRT) di Jakarta, Selasa (14/8).

Evelina menjelaskan, sertifikasi diperlukan agar citra asuransi semakin membaik seiring pertumbuhan agen penjual.  Penggunaan dana pendidikan sekitar 70℅ sebaiknya digunakan untuk agen. Sedangkan sisanya dipakai untuk level direksi, underwriting, keuangan, dan administrasi. Bahkan persentase alokasi dana pendidikan bisa meningkat seiring kebutuhan perusahaan.

Dia menekankan, agar agen menghindari pendekatan ke nasabah dengan cara menekan (product pusher). Kesenjangan yang terjadi antara masyarakat dengan agen harus diatasi dengan pola pemasaran product passion. Terkait penerapan sertifikasi, asosiasi ini menganjurkan empat hal yakni, pendidikan, pelatihan, kode etik, dan pengalaman.

    
Menurut Evelina, pengalaman menjadi anggota MDRT luar biasa dan berpotensi memacu peningkatan kualitas agen.

Sedangkan Kepala Bagian Perasuransian Syariah Bapepam-LK Nurhayati mengatakan, hingga saat ini agen masih merupakan kanal distribusi yang diandalkan perusahaan asuransi, meski ada perkembangan jalur lain, seperti telemarketing dan bancassurance.

Nurhayati menjelaskan, pendapatan premi pada 2006 senilai Rp 27,5 triliun, mayoritas dari hasil agen. Rata-rata per triwulan pertama 2006   mencapai Rp 7,5 triliun. Sedangkan pada triwulan pertama 2007, pendapatan premi telah tercatat Rp 8,50 triliun atau naik 23℅. “Kenaikan ini tidak lepas dari pencapaian prestasi agen penjual. Kami optimistis, pada triwulan berikutnya bisa lebih besar lagi,“ ujar dia.

Masih Kecil

Dia menambahkan, jumlah agen masih sekitar 160 ribu dan ini masih relatif kecil. Sebab, persentase pemegang polis belum seimbang dibandingkan populasi penduduk.  Kecilnya jumlah agen disebabkan kurangnya program sosialisasi.

Menurut Nurhayati, tingkat pengangguran dan profesi agen masih perlu

disosialisasikan sebagai alternatif. Sebab, konsumen semakin sadar terhadap hak memperoleh produk asuransi yang tepat. Oleh sebab itu, pemerintah mendukung program-program pendidikan keagenan.

     
Menanggapi potensi penyalahgunaan dana pendidikan, Evelina menjelaskan, hal ini perlu dikaji lebih jauh. Dia mengaku, pihaknya belum meneliti data potensi penyalahgunaan dana pendidikan. “Kalau soal ini jangan selalu dikonotasikan negatif. Mungkin saja manajemen perusahaan menggunakan dananya seperti pergi ke luar negeri untuk tujuan strategis dan pertukaran ilmu,” tandas dia.

Menurut dia, sejauh ini AAJI mendorong agar industri memperhatikan pentingnya pendidikan. Jika industri semakin besar, lanjut dia, otomatis animo masyarakat bertambah besar, sehingga alokasi pelatihan ikut besar. “Kalau tidak, tentu perusahaan akan kalah bersaing,” tegas dia.  (c101/c106)


Dari Programmer Jadi Konglomerat

Agustus 18, 2007

JAKARTA, Investor Daily

Perjalanan Kris Taenar Wiluan menjadi konglomerat cukup panjang. Berawal ketika ia menyelesaikan studinya pada 1971, Kris Taenar Wiluan bekerja di Guest, Keen and Nettlefold (GKN Group) di Inggris sebagai Computer Programmer/analyst.


Pada 1973, dia kembali ke Singapura dan bekarir di United Motor Works (UMW) sebagai General Manager. UMW adalah perusahaan publik yang tercatat di Bursa Singapura dan Malaysia yang mendistribusikan mesin dan alat berat. Di sana Kris bertanggungjawab pada penjualan dan pengembangan bisnis di Indonesia.
Pada 1977, dia memulai bisnis sendiri di bidang kontraktor Supplier and Logistic untuk perusahaan-perusahaan minyak multinasional di Indonesia.Bisnis keluarga Kris di Indonesia adalah distributor suku cadang otomotif dan pelumas mesin, kimia industri, dan bumbu masak yang dimulai sejak 1950 oleh ayahnya bernama Henk Wiluan.Pada 1979, dia mereorganisasi bisnis sang Ayah menjadi perusahaan holding keluarga di bawah bendera PT Citra Bonang dengan mempekerjakan 150 karyawan.

Pada 1983, bisnis pribadinya di bidang perakitan peralatan pengeboran minyak dikonsolidasikan ke dalam PT Citra Tubindo. Sebuah perusahaan yang bergerak di perakitan dan pemrosesan pipa pengebor minyak, casing, dan tubing yang berbasis di Pulau Batam. Saat ini, Citra Tubindo telah mencatatkan sahamnya di papan utama Bursa Efek Jakarta (BEJ).Perseroan merupakan pemasok utama Oilfield Tubular (Seamless Steel Pipes) untuk keperluan eksplorasi minyak/gas, produsen dan distributor minyak/gas. Kiprah bisnis Citra Tubindo bukan hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia dengan mengoperasikan pabrik hasil joint venture di Labuan-Malaysia, Vung Tao-Vietnam, serta Songkla dan Sathahib-Thailand.Citra Tubindo menyuplai sejumlah perusahaan besar di Asia, Australia, Timur Tengah, Rusia, Amerika Selatan, dan AS.Pada 1986, Kris membangun resor terintegrasi di Nongsa, Batam yang dilengkapi dengan lapangan golf (karya Jack Nicklaus), sebuah International Marina dengan holiday chalets, dan sebuah hotel resor untuk pemancingan, diving, dan echo tourism. Untuk menuju resor hanya diperlukan 25 menit perjalanan ferry dari ter minal Tanah Merah, Singapura dan 15 menit melalui jalan darat dari Bandara Internasional Hang Nadim, Batam.

Saat ini Citra Tubindo beserta 35 anak perusahaannya berada di bawah naungan perusahaan holding, Citramas Group dengan memperkerjakan total 2.000 karyawan. Seluruhnya di bawah kendali Kris.Cakupan bisnisnya pun bertambah menjadi perakitan peralatan pengeboran minyak, pelayaran dan logistik, jasa pengeboran, pembangunan infrastruktur, seperti pelabuhan, terminal ferry dan perusahaan telepon, serta hotel dan industri liburan.Kris adalah Presiden dan CEO Citra Tubindo, Presiden Citramas Group yang berbasis di Batam, dan Direktur Utama perusahaan keluarga, Citra Bonang yang berbasis di Jakarta. Perusahaan yang disebut terakhir memiliki 1.000 karyawan di 12 anak perusahaan dan lebih dari 50 cabang di seluruh Indonesia. (gie)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.